Perempuan Dilecehkan Setiap Hari, di Negara Manakah Itu?

Perempuan Dilecehkan Setiap Hari, di Negara Manakah Itu?

360
0
SHARE

Bagi Ghizlane Ahblain, kata “pelacur” selalu didengarnya di kota asalnya, Marrakesh.

Kata tersebut dilontarkan mulai dari pintu berwarna merah muda sampai ke sepeda motor butut yang mesinnya berusaha tetap berjalan di kemacetan jalan utama kota.

“Di Maroko, apa pun yang Anda lakukan, Anda seorang pelacur,” kata Ghizlane yang bekerja di sebuah hotel.

“Jika Anda memakai gincu, Anda seorang pelacur. Jika Anda memakai penutup kepala, Anda seorang pelacur,” ujarnya.

Ketidakpuasan disampaikan warga Maroko berumur 30 tahun tersebut saat dia duduk di teras sebuah kafe di Marrakesh tengah.

Seperti kebanyakan perempuan di Maroko, Ghizlane mengalami pelecehan seksual setiap hari. Tetapi beberapa tahun lalu, dia mulai melawan.

Taktiknya adalah membesar-besarkannya, sehingga lebih sulit bagi pria untuk melecehkan wanita di jalan, baik secara fisik maupun perkataan.

Dia mendebat pria yang mengatakan, “Anda memiliki kaki yang bagus” atau berteriak maling ketika seseorang menyatakan komentar seksis di bank.

“Harus lebih banyak orang yang mengutuk tingkah laku seperti ini,” katanya. “Pria di negara kami tidak mengetahui kapan harus berhenti.”

Dengan gelar pascasarjana dan rok pendeknya, Ghizlane mengakui dia bukanlah perempuan Maroko pada umumnya. Tetapi dia bukanlah satu-satunya orang yang menentang pelecehan seksual.

Di Rabat, ibu kota negara itu yang berada di pesisir pantai, BBC menunggu kedatangan Mo di stasiun pusat.

Dia berjalan di atas ubin yang mengkilat, dengan rambut cokelatnya yang lebat. Perbincangan kami agak canggung.

Dia mengatakan dirinya tidak terbiasa membicarakan hak perempuan, teman-temannya tidak terlalu tertarik.

“Mimpi saya adalah perempuan Maroko belajar cara menghentikan pelecehan seksual,” katanya.

“Ketika seseorang melecehkannya, saya bermimpi perempuan menampar wajahnya.”

Dia bermaksud menghadiri kursus bela diri tetapi ternyata dirinya harus mendapatkan izin pemerintah dan permintaannya tidak diperhatikan.

Mo malahan dihadapkan kepada pelecehnya langsung, satu per satu. “Ketika salah satunya berusaha menyentuh saya,” katanya.

“Saya meneriakinya. Saya katakan, “Mengapa Anda melakukan ini? Mereka tidak memahaminya. Saya tidak pernah mendapatkan reaksi positif.”

Tetapi Rancangan Undang Undang Pelecehan Seksual saat ini sedang dibicarakan di parlemen Maroko.

Godaan dan tawaran menikah

Orang-orang yang terus-menerus melakukan pelecehan dapat dihukum penjara satu sampai enam bulan atau denda 250 dollar AS sampai 1.200 dollar atau Rp 3 juta sampai Rp 15 juta.

Kedengarannya positif. Tetapi apakah ada hal yang tersembunyi?

“Kami memandang ini adalah sebuah RUU yang buruk,” kata Stephanie Willman Bordat, warga Amerika Serikat yang menekuni hak perempuan di sana selama 21 tahun.

Kantornya di Rabat adalah tempat perlindungan dari godaan dan tawaran menikah.

“Ini sebenarnya hanya perubahan kecil dari hukum pidana yang ada,” katanya.

“Masalah utamanya adalah perempuan tidak melapor, polisi tidak menyelidiki dan jaksa tidak menuntut.”

Dia kemudian mengirim email tentang sebuah cerita dari tahun 2015 yang menjelaskan mengapa perempuan tidak mempercayai sistem yang ada.

Setelah dilecehkan sekelompok pria di Inezgane, Maroko barat daya, dua orang perempuan berlindung di sebuah toko di dekatnya di mana mereka menunggu kedatangan polisi.

Ketika petugas datang, mereka malahan ditahan bukannya dilindungi karena pakaian mereka “terlalu pendek”.

Tetapi pelecehan di jalan bukan hanya membuat perempuan bungkam karena merasa diserang.

Di Maroko, hal ini juga membatasi kebebasan mereka, kebebasan mendapatkan pendidikan, bekerja, merasa aman di rumah mereka.

Perubahan sikap memerlukan puluhan tahun. Dalam jangka pendek, perubahan hukum pelecehan seksual menyampaikan pesan yang jelas, apa yang dapat diterima dan tidak. Tentang siapa yang dapat dihukum dan tidak.

Tidak semua perempuan di Maroko memiliki energi untuk melawan pelecehan. Sebagian berusaha hidup dengan menghindari pertentangan.

Berjalan-jalan di benteng kota tua Rabat, seorang perempuan yang menjadi pengusaha, Gitana, menceritakan bagaimana dia menghindari komentar pria dan usaha mereka menyentuhnya dengan selalu menggunakan kendaraan.

Tidak mudah menjadi seorang perempuan Maroko.

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY